Bukan Teater Cinta

November 2, 2009 at 3:07 pm (Uncategorized) ()

Ini bukan teater cinta Romeo-Juliet atau Laila-Majnun, tapi aku dikelilingi oleh beberapa orang dengan berbagai konflik percintaannya yang begitu mendrama bagiku:

Panggung 1:
Seorang pemuda ugal-ugalan, yang bertemu dengan teman lamanya yang kini telah menjadi seorang muslimah berjilbab rapi, yang kemudian menyadarkannya untuk menjadi seorang lelaki yang lebih baik. Rasa cinta diam-diam tumbuh di hati pemuda itu, namun di saat dia mulai mempersiapkan dirinya, hidupnya dan pekerjaannya untuk meminang gadis itu, dia mendapat kabar gadis itu telah menikah dengan orang lain.

Panggung 2:
Seorang gadis pujangga, yang mencintai seorang pemuda yang telah belasan tahun menjadi sahabatnya, cintanya tak tersampaikan lantaran pemuda itu ternyata mencintai gadis lain. Namun gadis pujangga tetap hadir sebagai seorang yang selalu menjadi apa yang pemuda itu butuhkan. Hingga kini, setelah pemuda itu meninggal dunia akibat suatu penyakit yang telah lama dideritanya, gadis pujangga itu tetap menyimpan cintanya dengan sedemikian setia.

Panggung 3:
Seorang mahasiswi cerdas, yang keluarganya diliputi keningratan bangsawan Bugis, bertemu dengan seorang mahasiswa keturunan Cina yang begitu bijaksana, seniornya, yang kerap membimbing kuliahnya. Mahasiswi cerdas itu diam-diam begitu mencintai seniornya itu, meski dia sadar lelaki itu berbeda agama dengannya dan telah memiliki kekasih. Hingga ketika seniornya itu akhirnya menikahi kekasihnya, mahasiswi itu masih saja menyimpan rasa cintanya yang membuatnya merasa mustahil untuk mencintai lelaki lain.

Panggung 4:
Seorang gadis manis, yang telah bersahabat baik dengan seorang pemuda selama bertahun-tahun. Tak pernah dia duga sebelumnya, bahwa ternyata pemuda itu menyimpan perasaan cinta padanya hingga ketika keluarga pemuda itu datang untuk meminangnya. Gadis itu sebenarnya tidak mencintai pemuda itu, namun atas nama persahabatan, dia menerima pinangan itu sambil bertekad untuk belajar mencintainya. Hingga akhirnya tanggal pernikahan telah disepakati dan rasa cinta perlahan mulai tumbuh di hati gadis itu, lelaki itu meninggal dalam perjalanannya menuju rumah gadis itu sesaat sebelum acara pernikahan mereka dilangsungkan.

Panggung 5:
Seorang ibu, yang lantaran suatu hal yang sangat penting terpaksa harus ditinggalkan selama beberapa waktu oleh suaminya , diapun berjuang sendiri untuk hidup dan menghidupi anak-anaknya. Hingga setahun kemudian, suaminya pulang dengan membawa kabar bahwa dia telah menikah lagi dengan perempuan lain.

Mungkin terkesan terlalu dramatis, namun cerita-cerita ini berasal dari kisah nyata orang-orang di sekitarku. Membuatku semakin kuatir, mungkin memang seperti itulah cinta diciptakan, selalu berkerabat dengan kekecewaan dan kesedihan. Maka benarlah kata Pangeran Tian Feng (Ti Phat Kay) dalam cerita Chinesse Odyssey (Kera Sakti) “Sejak dulu beginilah cinta, deritanya tiada pernah berakhir”

Selalu saja ada perih dan pedih. Teringat kisah Jack (Titanic) yang mengorbankan dirinya demi Rose, juga kisah Zainuddin (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) yang cintanya tak tersampaikan pada Hayati. Kisah Qais yang berubah majnun dan mengasingkan diri lantaran cintanya pada Laila. Kisah Datuk Museng yang demi cinta terpaksa harus memenggal istrinya sendiri, Maipa Deapati…

Membuatku bertanya-tanya, aah Cinta, apakah sebenarnya ia?

Makassar, Oktober 2009

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Menyambut Sapaan Ramadhan

September 6, 2009 at 2:57 pm (Islamic Zone)

Sapaan Pertama: Allah membanggakan kalian

Perhatikanlah bagaimana sabda Rasulullah saw dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah bersabda “Ramadhan datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu, Allah swt akan memberi naungan-Nya oada kalian. Dia menurunkan rahmat-Nya. Dia hapuskan kesalahan-kesalahan dan Dia mengabulkan do’a. di bulan itu, Allah akan melihat kalian berlomba melakukan kebaikan. Allah swt akan membanggakan kalian (di depan Malaikat-Nya). Maka perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah.” (HR. Thabrani)

Subhanallah, Allah menyapa kita yang melakukan puasa dengan kebanggaan-Nya. Sebuah kebanggaan yang dianggap sebagai suatu sapaan luar biasa yang tak layak diabaikan.

Sapaan Kedua: Mana orang-orang yang berpuasa?

Lihatlah sabda Rasulullah saw ini “Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang bernama Ar-Rayyan, dari pintu ini, akan masuk orang-orang yang berpuasa. Pada hari kiamat, tidak ada siapapun selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan (diserukan) ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ lalu mereka semua berdiri, tidak ada seorangpun selain mereka yang memasuki pintu ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya” (Muttafaqun ‘alaih)

Surga yang keindahannya tak pernah terkira oleh akal, pendengaran dan penglihatan manusia itu mencari-cari dan memanggil-manggil orang yang berpuasa untuk memasukinya melalui pintu khusus yang istimewa. Subhanallah! Semoga kita termasuk bagian dari orang-orang yang dipanggil itu.

Sapaan Ketiga: Siapa yang memohon ampun kepada Allah?

Ini adalah sapaan di bulan Ramadhan yang keistimewaannya berlipat ketimbang di bulan lainnya. Jika detik demi detik malam sudah sangat mahal di bulan biasa, terlebih di bulan Ramadhan. Bagaimana tidak? Di malam-malam Ramadhan, Allah swt turun ke langit dunia dan menyeru manusia untuk melakukan ibadah, meminta mereka melakukan seruannya agar berdoa dan meminta kepada-Nya. Allah membukakan mereka pintu taubat sampai Allah mengambuni mereka. Tidakkah kita malu jika diseru Allah swt, Pencipta, tapi kita menolaknya dan justru sibuk dengan sesuatu yang lain?

Apakah kita mau menyambut sapaan Allah swt di bulan Ramadhan ini? Mengapa sebagian kita masih ada yang menyediakan waktu berjam-jam selain untuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah? Mengapa ada sebagian kita yang menjalani aktifitas malamnya, bak penebus apa yang tidak bisa dilakukan di siang hari saat berpuasa? Mereka atau mungkin kita, telah menyia-nyiakan detik demi detik bulan Ramadhan ini…

Sapaan Keempat: “Puasa adalah Untuk Aku”

Puasa adalah ibadah yang sangat khusus. Melaksanakannya sangat bergantung pada sikap hati seseorang, seberapa besar keyakinannya bahwa Allah swt melihat dan memperhatikan dirinya, dimana saja. Kondisi ini dinamakan muraqabatullah, atau merasakan pantauan Allah swt, yang memang lazim dimiliki setiap kita. Ini jugalah yang menjadikan puasa sangat istimewa dibanding ibadah lainnya. Dan ini pulalah yang bisa kita jadikan jembatan memahami firman Allah swt dalam hadits Qudsi, “Puasa itu untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Allah secara khusus menyapa orang-orang yang berpuasa dengan memberi balasan secara langsung kepada mereka. Hadist ini menegaskan pahala dan ganjaran puasa yang sangat besar, tak hanya dibatasi oleh angka-angka tapi akan diberikan langsung oleh Allah swt dengan lipatan yang tak terkira, dan hanya Allah swt saja yang mengetahui. Jika Allah telah memberikan pujian dan perhatian langsung kepada puasa. Seperti apa sikap kita menerima kemuliaan ini?

Sapaan kelima: wahai pemburu kebaikan kemarilah, wahai pelaku kemaksiatan berhentilah

Dalam sebuah hadist Qudsi disebutkan firman Allah swt pada malam-malam bulan Ramadhan, “Wahai pemburu kebaikan kearilah. Wahai pelaku kemaksiatan berhentilah”

Ini adalah seruan dari Yang Maha Kasih, Allah swt yang benar-benar berkehendak menumpahkan kasih dan sayang-Nya kepada semua hamba-Nya di bulan Ramadhan. Bulan yang menjadi ajang bertambahnya kekuatan orang-orang yang melakukan ketaatan. Sebaliknya semakin melemahnya kehendak orang yang ingin melakukan kemaksiatan dan dosa. Dan itulah rahasia serta esensi puasa.
Imam Al-Ghazali berkata “Ruh dan rahasia puasa yang paling besar adalah kemampuannya melemahkan kekuatan yang menjadi sarana syaithan melakukan keburukan. Dan hal itu tidak mungkin terjadi kecuali dengan menyedikitkan makan. Jadi hendaknya seseorang makan makanan seperti biasa, sebagaimana ia tidak berpuasa si siang hari. Tapi jika di waktu malam melampiaskn porsi makanan siangnya ditambah dengan porsi waktu malam, ia tidak akan mengambil manfaat apa-apa dari puasanya.” (Ihya Ulumiddin, 342)

Sapaan Keenam: Aku mencegahnya dari makanan dan syahwat di siang hari

Perhatikanlah betapa indahnya dialog dan sapaan yang disampaikan oleh Puasa di hari kiamat kelak.
Dari Abdullah bin ‘Amr ra bahwasannya Rasulullah saw bersabda “Puasa dan Al-Qur’an memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata ‘Wahai Tuhanku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwat di siang hari, karena itu terimalah syafaatku untuknya’. Lalu Al-Qur’an berkata ‘Wahai Tuhanku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, oleh karena itu terimalah syafaatku untuknya’”. Rasulullah saw bersabda, “Lalu syafaat keduanya diterima oleh Allah swt” (HR.Ahmad)

Ramadhan, Rihlah bersama Allah swt

Puasa adalah perjalanan ruhani yang secara dahsyat memunculkan kebersamaan kita dengan Allah swt. Perjalanan waktu yang menyambung suasana dekat antara seorang hamba dengan Allah swt yang disembahnya. Dari sinilah muncul suasana taqwa yang bermuara pada hati lalu lahir dalam bentuk sikap dan perilaku. Yang akan memunculkan ketenangan dan kedamaian dalam hati seseorang.

Andai sapaan-sapaan bulan Ramadhan ini kita sambut. Maka puasa bisa mendidik kita menjadi lebih sabar, memperkuat kita mengendalikan keinginan, memperdalam lebih jauh lagi ketngguhan, maka kita akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam bulan ini.

Ada kata-kata indah dari Syaikh Al-Ghazali “Hewan melakukan apa saja yang ia inginkan dan ia tinggalkan apa yang tidak enak baginya. Tidak ada jarak antara keinginan dan syahwatnya. Tidak ada tarik menarik antara pemenuhan syahwat dengan kewajiban. Sementara manusia, ia harus memperhatikan berbagai kendala yang menghalanginya. Jika kebijakannya menguasai akalnya dan mengendalikan keingingannya, maka di sanalah ia menemukan kemanusiaannya. Jika tidak, maka ia bisa lebih rendah dari hewan”

Puasa bukan sekedar pembeda antara manusia dan hewan. Tapi puasa menjadi standar kebahagiaan seseorang dalam menjalani hidup dunia dan akhirat. Ketangguhan jiwa akan begitu bermanfaat bagi kesuksesan hidup dunia. Sementara karunia Allah swt di bulan ini, menjadi syarat kebahagiaan orang yang berpuasa di akhirat.
Begitulah Ramadhan menyapa orang-orang yang beriman. Dengan segala kemuliaan dan karunia yang ada di dalamnya. Maka, orang-orang yang tidak disapa Ramadhan, adalah orang-orang yang secara sengaja memang tiak mau disapa, dan orang-orang yang tidak mau menyambut sapaan Ramadhan.
Wallahu ‘alam

September 2009
Disarikan dari: Majalah Tarbawi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Puisi-Puisi Gila untuk si Monyet-Monyet

September 6, 2009 at 2:40 pm (Puisi)

Lelap di Awan*

Baru ku datang saat kau lelap di awan

Dalam  renung memori, kukenang kau merindu

Sempat bercengkerama dengan riak tawamu

Dengan langkah kocakmu

Namun kini tenggelam, terlelap dalam ingatan

Asamu… lelap di awan

Senyummu… lelap di awan

Ragamu… lelap di awan

Dan kau terbaring teduh, lelap di awan

Terlelap…

Terlelap…

Terlelap…

Baru ku datang saat kau lelap di awan

Sempat? Oh ku tak sempat

Tak sempat menatapmu sebagai penghabisan

Tak pernah merengkuhmu dalam dekapan

Hanya meratapmu pilu

Baru kudatang saat kau lelap di awan

Dan dalam menungku, bibirmu akhirnya melengkungkan senyuman

Oh, tak usahlah rasa ini kau tahu seumur hidupmu….

Makassar, 2003

Untuk ILF (dalam kenangan)

* dengan sedikit revisi

Lelaki Kupu-Kupu

Dia lelaki dengan hantu di balik bantalnya

Mungkin kau melihatnya tertidur

Atau melihatnya melayang dengan linglung

Atau melihatnya tersenyum

Atau melihatnya tertegun

Dia lelaki yang membuatku menangis

Karena terbangnya sudah terlalu cepat

Karena layang-layangnya sudah terlalu tinggi

Dia lelaki kupu-kupu dengan sayap pelangi

Dan ‘ku hanya bunga polos dengan aroma bangkai

Karenanya aku meratap…

Dalam masa-masa tertentu…

Kami hilang arti

Kami selalu menunggu, maka kami kecewa

Kami selalu terdiam, maka kami merana

Kami selalu mengingat, maka kami tertawa

Lelaki kupu-kupu kini melayang bersama bintangnya

Hingga warnanya menari-nari di angkasa

Dari jauh, sang bunga menatap damba

Karenanya bunga itu terkulai….

Makassar, Februari 2005

Untuk ARP (Yang tak terkirimkan)

The Shining Face

Seseorang yang wajahnya bersinar...
Diam2 kutahu kebiasaannya –baju warna gelap–kadang warna putih
Diam2 kutahu kehadirannya –berjalan menekuri tanah– sepertinya dunia selalu berubah dalam setiap langkah kakinya
Dia  mengajarkanku tentang banyak hal…wisefull

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Dia tidak pernah mengangkat wajahnya —tp sinarnya terpancar
Dia tidak pernah mengangkat wajahnya –karena takut pada Tuhannya
Dia tidak pernah mengangkat wajahnya –agar orang lain tak perlu tahu

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Dia mengingatkanku pada Mush’ab bin Umair dan Dihya Al-Qalby, meski dia tidak semenawan kedua orang itu
Sinarnya mengingatkanku pada Muhammad, meski sinar wajahnya sangat sedikit kemilaunya dibanding sinar wajah Muhammad…

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Karena sinar wajahnya, dia seolah mencuat di antara ribuan orang
Tapi cukup aku saja yang tahu…
Supaya aku takjub pada sang Pencipta sinarnya

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Mungkin… aku telah berbuat banyak kesalahan
tetapi… aku hanya seorang wanita…

Mungkin aku terlampau bimbang
Mungkin aku terlampau tenggelam
Mungkin aku terlampau pilu
Mungkin aku terlampau rindu
Mungkin aku terlampau introvert
Mungkin aku terlampau emosional
Mungkin aku terlampau futur

Mungkin aku…mungkin…mungkin….
Hanya mungkin –karena yang pasti hanya milik Tuhan

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Harap kulihat sinarnya pada langit malam di antara cahaya bintang-bintang
Harap kutatap ronanya pada langit senja di antara lengkungan pelangi
Harap kulirik bayangnya pada langit pagi di antara kilauan embun fajar…

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Mungkin aku hanyalah Nurul…
Mungkin Nurul terlalu mendambakan Fahri
Padahal nama sang Pangeran Berkuda telah terukir di Lauh Mahfudz…
Mungkin Pangeran Berkuda itu bernama Fahri, mungkin pula tidak
— Nurul tinggal menunggu waktu…

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Sinar wajahnya bukanlah yang paling kemilau…
Tapi karena sinarnya, aku merindukan pertemuan dengan Nabi mulia
Nabi mulia yang sinar wajahnya paling kemilau di antara semua makhluk…

Seseorang yang wajahnya bersinar…
Karena sinarnya, aku memohon ampun kepada Sang Penciptanya
Karena sinarnya, aku memohon ampun kepada Sang Penciptanya
Karena sinarnya, aku memohon ampun kepada Sang Penciptanya –Karena aku telah terlena…

Makassar, Desember 2006

Untuk AIN (yang tak bersinar lagi)

20 Phrase about The 2nd Shinny

Frasa 1 “Ini Siapa?”

Frasa 2 “Maaf… maaf”

Frasa 3 “Hmhmhm…”

Frasa 4 “Yup! Nggak apa-apa”

Frasa 5 “Hahaha… hihihi”

Frasa 6 “Trus… trus…”

Frasa 7 “Nggak… saya cuma mahasiswa biasa”

Frasa 8: Fokus di dua hal bersamaan

Frasa 9 “Dinda itu gak ada, cuma hayalan saja”

Frasa 10 “Sederhana tapi bagus”

Frasa 11 “Galak juga” “Galak amat”

Frasa 12 “…, Fit!”, “Ini dulu deh, Fit”, “Udah tadi, Fit”

Frasa 13 “Nggak tahu”

Frasa 14 “pantesan mi”, “pantesan ji”

Frasa 15 “Saya mah high tech!”

Frasa 16 “Saya kan cuma mau jujur sama diri sendiri”

Frasa 17 “tidak untuk dipuji, tapi untuk bekerja lebih keras”

Frasa 18: Catatan Harian untuk dibaca oleh semua orang

Frasa 19: The 2nd has signed out

Frasa 20: entahlah….

Makassar-Bandung, 2008

Untuk RYA (sepertinya dia akan bertemu Dindanya)

[memilih-milih, mana yang belum kau publikasi]

Dan bintang di langit malam berkicau menertawakanku

Makassar, Juni 2008

Untuk EPS (Gencatan senjata! Kau jangan salah kaprah, kawan!)

Dialogifora: Senja

Senja,

Telah kutitipkan puisiku pada senja

Untuk disampaikan pada dia

Dia yang sorot matanya lebih berpijar daripada ribuan galaksi

Yang senyumnya lebih manis daripada jutaan pohon madu

Yang suaranya lebih merdu daripada milyaran simfoni lagu

Yang derapnya lebih tegas daripada triliunan bukit cadas

Senja,

Apakah puisiku telah tiba padanya?

-Makassar, Oktober 2008

Dialogifora: Waktu

Aku berharap suatu saat waktu terhenti

Dan itu adalah saat kau berdiri di puncak menara

Lalu menguarkan cahaya di balik rahangmu

-Makassar, Desember 2008

Untuk RSS (yang menaklukkan)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Khotbah Rasulullah Ketika Menyambut Ramadhan

September 6, 2009 at 2:36 pm (Islamic Zone)

“Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Bulan semulia-mulia bulan di sisi Allah. Hari-harinya adalah sebaik-baik hari. Malam-malamnya sebaik-baik malam. Waktu-waktunya adalah sebaik-baik waktu.”

“Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu Ramadhan. Bulan di mana kamu diundang menjadi tamu Allah. Dan kamu dijadikan sebagai golongan Allah yang mulia. Nafas-nafas kalian adalah tasbih. Tidur kalian adalah ibadah. Amal kalian diterima. Do’a kalian mustajab. Maka mintalah kepada Allah dengan niat yang tulus, dengan hati yang bersih, agar Allah memberi taufik kepada kalian untuk berpuasa dan membaca kitabnya (Al-Qur’an). Maka orang yang sengsara adalah siapa yang tidak diampuni dosanya pada bulan yang agung ini….”

“Dan bertaubatlah kalian kepada Allah atas dosa-dosa kalian. Angkatlah tangan kalian dalam doa di waktu-waktu shalat kaian. Sesungguhnya itu adalah sebaik-baik waktu dimana Allah melihat hamba-hambaNya dengan penuh rahmat. Menjawabnya jika mereka memanggil, menyambutnya jika mereka menyeru, memberinya jika mereka meminta, dan mengabulkannya jika mereka memohon kepadaNya.”

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya jiwa kalian tergadaikan dengan amal perbuatan kalian. Maka lepaskan gadai itu dengan istighfar. Sesungguhnya punggung kalian diberati oleh dosa-dosa kalian, maka ringankanlah dengan sujud-sujud kalian yang panjang….”

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tentang si N: Orang yang Belum Pernah Jatuh Cinta Itu Akan Menikah!

September 6, 2009 at 2:34 pm (corat coret)

Masih Ramadhan, tapi aku ingin menceritakan Syawal, bukan bermaksud untuk menafikan keutamaan Ramadhan sebagai bulan terbaik, tapi untuk kali ini, di bulan Ramadhan, aku ingin menceritakan tentang Syawal. Mengapa? Karena ingin saja (^_^) [eh, suka2 gue dong, note-note gue, jangan MaEGA PROtes!]

Lagi, aku bercerita tentang si N
Bila pada ulang tahunnya tahun lalu, si N mendapat hadiah teror Bom Palsu di atas Hot Plate, maka ulang tahunnya kali ini (insyaALLAH) dia akan mendapat hadiah Seorang Suami. Ah, si N itu memang terlalu “curang” karena tidak pernah membiarkanku menemukan fakta itu keluar dari mulutnya sendiri!

Kuingat selama beberapa bulan ini aku selalu mengerecoki hidupnya dengan cerita-cerita “gila”ku dengan para “monyet”. Dia hanya membiarkanku membudekinya dengan telepon dan SMS “gila” tentang betapa puitisnya si Bocah dan betapa lucunya si Batman, lalu dia “tiba-tiba” saja akan menikah dengan si Robin! Sungguh, aku menganggapnya tiba-tiba karena dia tak pernah mau membuka sedikitpun tentang cerita “gila”nya. Seingatku, hanya sepintas lalu dia pernah menyebut si Spiderman yang kerap memberinya nasehat dan menghadiahkannya Harry Potter and The Deathly Hallow (Hard Cover saat masih belum banyak terjual di Gramedia). Itupun sudah lama, dan dia tidak mengatakan itu “gila”. (Ah… membuatku tergelitik untuk membuka arsipan SMSnya yang ternyata isinya gak rahasia-rahasia amat…)

Si N pernah bilang, dia tidak (belum) pernah jatuh cinta. Maka ingin sekali kukatakan pada si Robin calon suaminya itu “Kau harus membuat cewek tomboy yang batu luar biasa ini bisa mencintaimu!”, dan kurasa si Robin akan mendapatkan kebahagiaannya karena akan menjadi orang pertama yang dicintai oleh si N. Selama aku mengenal si N, belum pernah kudapati ia mengalami syndrom jatuh cinta (kecuali waktu SMP dulu pada seorang tokoh serial Amigos bernama Santiago), dan orang yang belum pernah jatuh cinta itu sebentar lagi akan menikah! Subhanallah…

Menurutku, itu imbalan yang sangat pantas untuk si Robin –seorang ikhwan tampan yang cerdas, baik hati, tidak sombong dan rajin mencuci piring—atas perjuangan gigihnya menaklukkan tembok batu si N. sekedar info, selama proses pernikahannya, si N tidak pernah menampilkan wajah berseri-seri bahagia, atau memerahkan pipinya –yang sedari lahir sudah merah itu– ketika membahas tentang persiapan pernikahannya, melainkan yang kudapati adalah tampang jutek terlipat2, dan selalu saja menghindari topik pembicaraan seputar itu. Aku merasa sangat bersalah karena sama sekali tak bisa membaca perasaan orang yang telah kukenal sebelum aku bisa mengingat apa2 itu. Apakah dia belum siap jatuh cinta?

Tapi selama aku membicarakan ttg si Bocah dan si Batman, dia selalu bisa memberikanku nasehat2 yang luarbiasa bijak. Tentang manajemen penyakit “gila” dan turut andil membantuku dalam upaya
“Bukan Melupakan Orangnya tapi Melupakan Perasaan Kepadanya”. Jadi meskipun dia pernah mengatakan “Gue tahu ngomong tuh gampang banget, tapi gue juga gak yakin bakal bisa ngelakuin apa yang gue bilang” tapi kupikir, dia akan mampu menghadapi hatinya sendiri nantinya.

Si N adalah seorang akhwat yang selalu menjaga diri dan kehormatannya. Tak pernah kudapati dia pacaran atau bermasalah dengan laki-laki. Dan –sekali kutekankan padamu– atas pengakuannya padaku, dia mengatakan belum pernah jatuh cinta (meskipun aku masih belum mengerti jatuh cinta seperti apa yang dia maksudkan) dan aku memaksanya untuk berjanji bahwa jika hal itu telah terjadi, aku adalah salah satu orang pertama yang harus mengetahuinya.

Pun dengan si Robin, dia mengaku belum punya feeling apa-apa. “Gile gak tuh, Ndah? Masa’ menikah gak punya feeling sih?”

Aku tidak tahu apakah ini hal yang buruk atau malah baik bagi si Robin. Tapi Robin sudah mendapatkannya –satu dari belasan orang yang mencoba melamar si N dan akhirnya diterima—jadi, tugas Robin setelahnya adalah menciptakan feeling itu dan membuat si N jatuh cinta padanya. Dan menurut prediksiku, itu bukan hal yang terlalu sulit.

(Tenang saja, Robin. Aku mendukungmu! Asalkan kau juga mendukung si N untuk tetap bisa kompak dan seru2an dengan teman2 dan sepupu2nya. Karena menurutku, menjadi jauh dari orang2 yang disayanginya adalah salah satu hal yang dikuatirkan oleh si N bila menikah nanti)

Robin adalah orang terpilih yang telah kami nanti-nantikan selama bertahun-tahun. Dia sudah menjadi pangeran bagi si N dan akan menjadi bagian bagi kehidupan kami semua. ALLAH tentu punya rencana menghadirkannya di tengah2 kami. Apapun rencanaNYA, kuyakin adalah yang terbaik bagi kita semua
(Hei Robin, kau harus tahu bahwa si N adalah salah satu orang yang paling kusayangi di muka bumi ini. Kupercayakan dia padamu, kuharap kau bisa menjaganya dengan baik)

Makassar, Agustus ke September 2009
NB: Selamat datang Robin, dalam keluarga Superhero!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tentang si N: Kau Tak Butuh Bahu, Kau Hanya Butuh Bahagia

September 6, 2009 at 2:30 pm (corat coret)

Lagi lagi, aku akan bercerita tentang si N, salah satu N dari banyak N yang menjadi puzzle hidupku di muka bumi ini. N yang puitis yang selalu bersedia menjadi Manusia Telinga bahkan sebelum aku berkata apa-apa.

Oh… N, aku tak tahu harus menyaingi puisimu seperti apa. Ketika kudapati kabar itu. Puisimu selalu kubanggakan, terlebih saat kau tetAskan airmata di setiap hurufnya. Tapi malam ini, puisimu sangat tak beraturan kata-katanya. Kau melupakan Sutardji-mu! Aku membencimu yang seperti ini!

Aku menangisimu! Menangisi betapa pilunya kisahmu, betapa merananya dirimu yang terpaksa kehilangan dua lelaki sahabatmu. Aku menangisimu, menangisi kalian yang memerankan kisah ini dengan setengah hati. Betapapun aku mencintai duka, namun lakon yang kalian perankan sungguh sangat menyakitiku!

Aku menangisimu –andai kau melihatnya– karena aku tak punya kata-kata lagi untuk kutuliskan untukmu. Aku menangisimu, dan kusodorkan bahuku padamu. Andai aku membersamaimu, tapi kau tak benar-benar membutuhkan bahuku. Katamu, kau hanya butuh bahagia.

Tapi bagaimana aku bisa membantumu untuk bahagia? Aku tahu seperti apa hidupmu. Terlebih setelah kepergian lelaki sahabatmu yang kedua ini, kau akan menjadi semakin ‘alien’, kau akan selalu memilih untuk hidup di luar angkasa daripada di dalam rumah bumimu sendiri. Lalu kau akan berkata akan lebih senang bila segera menyusul mereka. Arggh!Aku sungguh membencimu saat kau terlalu sering mengatakan itu! Aku membencimu yang seperti ini, N! karenanya aku tak tahu bagaimana membantumu untuk bahagia.

Aku tahu cerita kenanganmu yang melebihi satu dasawarsa dengannya. Satu dasawarsa! dan kau telah menjaga hatimu selama lebih dari satu dasawarsa! Kau sungguh membanggakanku! Kau menghadirkannya sebagai inspirasi di hampir semua puisi-puisimu. Kau menjadikannya ayah bagi bunga-bunga harammu.

N.., kau tak perlu berpura-pura tegar, dan aku tak perlu menghapal naskah nasehat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena kau bukan anak kecil yang tidak menyadari keadaanmu sendiri. Kalau kau mau menangis, maka lakukanlah! Lakukan sampai kau lupa apa yang kau tangisi. Sampai kau lupa untuk puas menangis. Menangislah! Bila kau bertekad untuk mengiringi jejak-jejaknya dengan airmata.

Kau tak perlu memintaku untuk membantumu bahagia, karena kau tentu tahu bahwa aku tak kan tahu bagaimana caranya. Lantas mengapa kau memintaku untuk membantumu bahagia? Padahal aku sama sekali tak tahu bagaimana caranya!

Aku tak tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu. Karenanya, kau tak kan membutuhkan petuah-petuahku, kau takkan membutuhkan nasehat-nasehatku. Maka ijinkan aku menangis saja, mengikuti tangismu. Karena aku sadar tidak kan bisa memberimu apa-apa.

Aku tak tahu bagaimana aku bisa membantumu untuk bahagia. Aku hanya punya lisan untuk berdoa, dan kau hanya akan memaksakan diri untuk terpuaskan dengan doa-doa. Aku hanya punya bahu yang bisa kau pakai untukmu menangis, tapi tidak, yang kau butuhkan adalah bahagia….

Makassar, 3 September 2009
Maafkan aku N, biarkan ALLAH yang membahagiakan kalian dengan RamadhanNYA

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Superhero itu Terlalu Sering Memakai Topeng

September 6, 2009 at 2:23 pm (corat coret)

Mereka lebih sering menyembunyikan wajah mereka di balik topeng. Mereka lebih suka merahasiakan identitas mereka. Mereka akan menebar pesona mereka tanpa perlu kalian tahu siapa sebenarnya mereka. Mereka akan datang menyelamatkan kota, orang tua bahkan para wanita, dan menobatkan diri sebagai pahlawan (baca: Superhero). Lalu mereka akan pergi begitu saja, sekali lagi, tanpa perlu kalian tahu siapa mereka.

Rendah hatikah mereka? Tidak! Mereka sebenarnya sungguh sangat sombong!

Mereka senang bermain-main dengan harapan orang-orang dan membuat orang-orang bergantung pada kepahlawanan mereka. Mereka senang membuat para wanita terkagum-kagum pada mereka. Membuat para wanita terjerat dan mencari tahu siapa sebenarnya mereka. Membuat media penasaran dan tergelitik untuk menyebarkan gosip-gosip tentang mereka.

Pahlawankah mereka? Tidak! Mereka sebenarnya hanya menginginkan pengakuan!

Akuilah bahwa mereka hebat. Ya, mereka memang hebat! Mereka jagoan! Mereka pemberani! Tapi mereka tidak akan cukup berani untuk membuka topengnya di hadapan kalian! Entah dengan alasan rasional seperti apa.

Maka bila suatu ketika, satu di antara mereka datang menyelamatkanmu. Kau tak perlu merasa terharu dan istimewa. Karena percayalah, mereka telah terbiasa datang menyelamatkan orang lain. Tak usahlah kau berupaya membuka topengnya, karena itu hanya akan membuatnya tidak leluasa untuk terbang kemana-mana. Kau tak perlu menahannya untuk tinggal menemanimu, karena bumi hanyalah tempat persinggahannya.

Dengar aku, teman. Yang kau butuhkan sesungguhnya bukanlah Superhero, melainkan orang biasa-biasa saja yang datang kepadamu tanpa perlu memakai topeng.

Makassar, September 2009
NB: teruntuk Batman (yg masih setia dengan topengnya), Spiderman (yang telah terbang entah kemana), dan untuk Robin (yg telah berani melepaskan topengnya)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tentang si N: Ulang Tahun yang Unik Tahun Lalu

September 6, 2009 at 2:20 pm (corat coret)

Aku ingin bercerita tentang si N, satu dari banyak “N” yang mengisi hidupku terutama pada bulan-bulan belakangan ini. Satu dari banyak N yg kupercaya dapat memahami diriku.

Sekitar setahun lalu (Oktober 2008/ Syawal 1429 H), aku dan si N ditraktir oleh Paman Tyo makan malam di Hot Plate Mall Panakkukang pada malam ulang tahun si N. (sedikit catatan, Paman Tyo si bungsu bujang ini punya kondisi kocek yg sangat tak terduga, hari ini bs saja dia mentraktirmu makan apa saja yg kau mau, padahal kemarin dia datang mengeluh padamu sudah tidak makan selama 2 hari) dan beruntunglah pada malam itu kondisi koceknya lumayan tebal, jadi kami pun dengan sangat bahagia memanfaatkan momen ini. Aku segera memesan Mie Hot Plate Lada Hitam (yg rasanya enak tapi kurang sesuai dengan lidah orang Indonesia) juga Es Sumo (yg kupikir mungkin berasal dari Jepang tapi ternyata tak jauh beda dengan Es Buah yg diberi topping es Tontong), si N memesan masakan khas SulSel yg sudah jarang dicicipinya lagi dan Jus Rainbow (yg membuat kami bertanya2 bagaimana caranya membuat jus dengan susunan warna seperti itu, benar2 bersusun seperti pelangi dan tidak bercampur meski diaduk2)

Awalnya makan malam kami berlangsung biasa seperti laiknya 3 orang yg cuma punya waktu untuk bertemu sebentar dan akan berpisah lebih lama. Namun tiba2 orang-orang dari bagian dalam atrium Mall itu berlari-larian heboh. Kupikir mungkin ada diskon besar2an yg pake StopWatch, jadi kami tidak begitu mempedulikannya. Tapi kemudian jumlah orang2 yg berlarian itu semakin banyak dan larinya pun semakin tergesa-gesa. Terlalu tergesa2 untuk sebuah even diskon besar2an atau acara Uang Kaget. Lalu kami pun menduga, mungkin ada sesuatu yg buruk yg sedang terjadi. Kami pun mulai khawatir. Beberapa Karyawan Hot Plate mencoba mencari tahu, beberapa saat kemudian mereka datang sambil ikut2an berlari dengan nada bicara yg aneh, antara cemas dan tidak percaya “Katanya ada Bom…”

Bom?? Di Mall ini? Oh ya ALLAH, seumur hidup, aku benar2 tidak berniat mati di Mall! Apa jadinya kalau jasadku nanti ditemukan dengan identitas sebagai anggota FKMKI –yang anggaran dasarnya berafiliasi dalam aktifitas dakwah– tiba2 tewas di Mall? Dalam kondisi yg terlalu hedon: mencoba menikmati masakan yang terlalu mahal untuk sekedar mengisi perut. Bisakah kukatakan bahwa kematianku adalah syahid? (dimana kek yang lebih keren, yang lebih terkesan khusnul khatimah? Mesjid atau Palestina sekalian. Lha ini, di Mall? Alamak!)

Belum cukup kami menikmati kekuatiran-kekuatiran dan praduga-praduga kami, tiba2 lampu mati! Maksudku bukan hanya lampu, tapi semua yg memakai tenaga listrik di Mall itu. Mall yg luas dan tadinya terang benderang itu seketika terasa sempit dan gelap gulita. Orang-orang berhenti berlari dan memilih diam di tempat atau bersandar di tembok sambil menyalakan lampu Handphone. Riuh kepanikan berganti dengan kecemasan dalam hati. Seakan seperti perang dingin. Menunggu apa lagi yang terjadi. Meski sebagian besar perasaan yg berkecamuk lebih kepada rasa jengkel pada kejadian yg terkesan seperti ulah iseng yg sudah basi. Paling cuma kerjaan anak-anak muda yang kadar gokilnya sudah melewati standar norma. Aku pun tidak ingin terlalu mempercayai akan adanya teror bom yg sudah bertahun-tahun tidak ngetren lagi.

Kudengar Paman Tyo berkomentar entah pada siapa “Alah… santai meko, tidak adaji itu apa-apa”

Dan si N berkata dengan candaan “Terharu gue, Duh… gak sampe segitunya kalo mau ngasih kejutan di malam ulang tahun gue. Gak usah repot-repot kallee..”

Lampu menyala sekitar 3 menit kemudian. Dan fakta pun terungkap. Bukan Bom, tapi ada kebakaran di gedung SunParking di luar. Bukan di Mall itu. Meski kebakarannya cukup besar, tapi bukan bom, dan yg paling penting adalah penyebabnya kemungkinan besar karena human error, bukan human terror.

Aku, si N dan Paman Tyo merasa lega dan berbangga hati pada ketidak percayaan kami. Benar kan? Harree gene masih ada Bom? Basi tau!

Tapi tahun ini, Ulah Iseng yang Sudah Basi itu ternyata dipanaskan lagi! Bukan hanya di malam ulang tahun si N. Aroma si Ulah Basi memenuhi hidung kita lagi, siap menjadi sarapan pagi sampai pagi lagi, siap menemani kita bersahur dan berbuka puasa. Mungkin sampai akhirnya basi lagi, dan orang-orang mulai tidak berselera untuk mengkonsumsinya nanti. Entahlah, Allah yang jauh lebih tahu

Makassar, Agustus 2009

NB: Postingan iseng-iseng yang mulai basi di kepala dan mendesak untuk segera di-share.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hisab Diri

Juli 9, 2009 at 5:59 pm (Uncategorized) ()

Sebuah perenungan di malam kelam dalam kebutuhanku terhadap penghambaan pada Rabb
dan atas sedih dan gelisahku
dan atas kemunafikanku…
maka, ijinkan aku menghisab diri
dalam tangisku…

Ya ALLAH…
Ampunilah iman ini yg selalu ragu
dan hati ini yg terlalu pilu
dan jiwa ini yg berbalur sembilu
dan izzah ini yg semakin gugu
dan otak ini terlalu lugu…
dan jihad ini yg tak pernah bersimbah peluh
dan raga ini yg terlampau kaku
dan jasad ini yg tak pernah berganti laku

dan cahaya mata ini yg semakin sendu
dan lisan ini yg selalu kelu
dan dakwah ini yg semakin bisu
dan tilawah ini yg tak lagi merdu

Ampunilah…hamba dari khilaf ini

dari malam yg munajat-nya sepi
dari lail yg tahajjud-nya mati
dari do’a yang pengharapannya tiada pati
dari sujud yg bekasnya usang
dari ruku yg jejaknya hilang
dari sedekap yg genggamannya renggang…

Ampunilah hamba dari segala dosa ini…
dan dosa-dosa yang tiada sanggup hamba kira
selayak mengira jutaan bulir pasir di lautan… padahal telah lebih adanya

dan ALLAHU RABBI..
bila kami dilanda futur, sungguh hanya Rahmat-Mu yang kami butuh…

—-‘nda…at warnet

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Buku Buku Puisi

Juli 1, 2009 at 3:02 pm (Uncategorized) ()

aku ingin membaca buku-buku puisimu

aku ingin menulis buku-buku puisimu

aku ingin membuku puisi-puisimu

aku ingin memuisi buku-bukumu

aku ingin buku-bukumu menjadi puisi

aku ingin puisi-puisimu menjadi buku

aku ingin kau menulis puisi dengan buku-buku jarimu

aku ingin kau menulis buku dengan puisi-puisi jarimu

aku ingin kau membaca puisi dengan buku-bukumu

Oh… aku ingin mendengar buku-bukumu berpuisi!

darimu untukku

dariku untukmu

aku ingin membaca buku-buku puisi darimu dariku

aku telah membaca buku-bukumu lalu aku ingin puisimu

aku telah membaca puisi-puisimu lalu aku ingin bukumu

aku telah membaca buku-buku dan puisi-puisimu lalu aku inginmu

aku telah membaca buku-buku darimu

aku telah membaca puisi-puisi darimu

aku telah membaca buku-buku dirimu

aku telah membaca puisi-puisi dirimu

lalu

aku kini ingin diri darimu

lalu aku ingin dirimu

Makassar 1-2 Juni 2009

Permalink 1 Komentar

Next page »